Trump Bela Agen ICE Usai Penembakan Perempuan di Minneapolis
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memantik kontroversi setelah secara terbuka membela seorang agen imigrasi federal yang menembak mati seorang perempuan warga negara Amerika Serikat dalam operasi penertiban imigrasi. Insiden tersebut terjadi di Minneapolis, Minnesota, pada Rabu, 7 Januari 2026 waktu setempat, dan langsung memicu perdebatan nasional mengenai penggunaan kekuatan mematikan oleh aparat, kewenangan federal, serta arah kebijakan imigrasi Amerika Serikat.
Korban diketahui bernama Renee Nicole Good, perempuan berusia 37 tahun. Ia tewas setelah ditembak oleh petugas dari United States Immigration and Customs Enforcement (ICE) dalam sebuah operasi penegakan hukum di kawasan permukiman yang berdekatan dengan pusat usaha milik komunitas imigran. Peristiwa ini dengan cepat menyedot perhatian publik karena terjadi di kota yang masih menyimpan trauma mendalam atas kematian George Floyd pada 2020.
Pernyataan Trump dan Klaim Pembelaan Diri
Melalui platform media sosial Truth Social, Trump menyampaikan pembelaannya terhadap tindakan agen ICE tersebut. Ia mengaku telah menonton cuplikan video kejadian dan menyimpulkan bahwa penembakan itu dilakukan sebagai bentuk pembelaan diri.
“Saya baru saja melihat cuplikan kejadian yang terjadi di Minneapolis, Minnesota. Sungguh mengerikan untuk ditonton,” tulis Trump, seperti dikutip dari India Today, Kamis, 8 Januari 2026.
Trump menilai Renee Good bertindak agresif dengan menggunakan kendaraannya untuk menyerang petugas. Menurutnya, tindakan menabrak agen federal itu dilakukan secara sengaja, sehingga agen ICE tidak memiliki pilihan lain selain melepaskan tembakan.
Dalam pernyataannya, Trump juga menuding kelompok yang ia sebut sebagai “Kiri Radikal” sebagai pihak yang kerap menciptakan situasi berbahaya bagi aparat penegak hukum. Ia menegaskan bahwa agen ICE hanya menjalankan tugas menjaga keamanan nasional dan perlu mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah.
Dukungan Pemerintah Federal terhadap ICE
Pembelaan Trump diperkuat oleh pernyataan Menteri Keamanan Dalam Negeri AS Kristi Noem. Noem menyebut insiden tersebut sebagai bentuk “terorisme domestik” terhadap personel ICE.
Menurut Noem, korban berusaha menabrak agen federal dengan kendaraannya, sehingga situasi tersebut dinilai mengancam nyawa petugas. Ia menyatakan bahwa agen ICE bertindak cepat dan defensif demi melindungi diri sendiri serta orang-orang di sekitarnya.
Noem juga mengungkapkan bahwa operasi penegakan hukum imigrasi yang sedang berlangsung di wilayah Minneapolis dan St. Paul melibatkan lebih dari 2.000 petugas federal. Operasi ini, menurutnya, telah menghasilkan ratusan penangkapan terkait pelanggaran imigrasi.
Lokasi Penembakan dan Luka Lama Minneapolis
Penembakan Renee Good terjadi tidak jauh dari lokasi tewasnya George Floyd, warga Afrika-Amerika yang meninggal dunia setelah ditindih lutut polisi pada 2020. Peristiwa itu memicu gelombang protes besar-besaran bertajuk Black Lives Matter dan mengubah lanskap perdebatan nasional mengenai rasisme dan kekerasan aparat.
Kedekatan lokasi ini memberi dimensi simbolik yang kuat. Bagi banyak warga Minneapolis, insiden terbaru ini dianggap membuka kembali luka lama dan memperkuat ketidakpercayaan terhadap aparat penegak hukum, terutama yang berasal dari pemerintah federal.
Penolakan Keras dari Pemerintah Lokal
Sikap Trump dan pemerintah federal justru menuai kecaman dari para pemimpin lokal. Wali Kota Minneapolis Jacob Frey secara terbuka menolak klaim pembelaan diri yang disampaikan Trump.
Dalam konferensi pers, Frey menyatakan bahwa setelah menonton rekaman video kejadian, ia menilai narasi pembelaan diri tersebut tidak sesuai fakta. Ia bahkan menyebut klaim pemerintah federal sebagai “omong kosong” dan “narasi sampah”.
Frey meminta agen ICE untuk meninggalkan Minneapolis. Menurutnya, kehadiran dan metode operasi ICE justru menciptakan ketakutan, menghancurkan keluarga, dan menebar kekacauan di tengah masyarakat kota tersebut.
Protes Warga dan Ketegangan Sosial
Tak lama setelah penembakan, ratusan warga berkumpul di lokasi kejadian. Mereka meneriakkan slogan-slogan penolakan seperti “Shame! Shame!” dan “ICE out of Minnesota!”. Aksi protes ini berlangsung dengan pengamanan ketat dan mencerminkan kemarahan publik terhadap kebijakan imigrasi federal.
Bagi banyak warga, insiden ini bukan hanya soal satu penembakan, melainkan simbol dari pendekatan keras pemerintah pusat terhadap komunitas imigran dan kota-kota yang selama ini bersikap kritis terhadap kebijakan tersebut.
Sorotan terhadap Kebijakan Imigrasi Nasional
Insiden Minneapolis ini tercatat sebagai kematian kelima yang terkait langsung dengan operasi penegakan hukum imigrasi sejak 2024. Fakta ini meningkatkan tekanan terhadap ICE dan Departemen Keamanan Dalam Negeri untuk mengevaluasi prosedur penggunaan kekuatan.
Para pengamat menilai bahwa konflik antara pemerintah federal dan pemerintah daerah akan semakin tajam, terutama di kota-kota besar yang memiliki sejarah ketegangan rasial dan sosial. Kebijakan imigrasi yang agresif dinilai berpotensi memperlebar jurang politik dan memperburuk hubungan antara aparat dan masyarakat sipil.
Perdebatan Nasional yang Kian Menguat
Kasus ini kembali menempatkan Donald Trump di pusat perdebatan nasional. Pendukungnya menilai sikap Trump sebagai bentuk keberpihakan pada aparat penegak hukum dan keamanan nasional. Namun, para pengkritik menilai pembelaan tersebut mencerminkan pengabaian terhadap akuntabilitas aparat dan hak-hak sipil warga negara.
Isu ini juga memunculkan pertanyaan besar: sejauh mana aparat imigrasi boleh menggunakan kekuatan mematikan, terutama terhadap warga negara sendiri? Pertanyaan tersebut kini menjadi bahan diskusi di parlemen, media, dan ruang publik Amerika Serikat.
Kesimpulan
Penembakan Renee Nicole Good oleh agen ICE di Minneapolis bukan sekadar peristiwa kriminal, melainkan titik temu berbagai persoalan besar: kebijakan imigrasi, penggunaan kekuatan oleh aparat, konflik antara pemerintah pusat dan daerah, serta luka sosial yang belum sembuh di Amerika Serikat.
Dengan Donald Trump yang secara tegas membela agen ICE, dan pemimpin lokal yang sama kerasnya menolak narasi tersebut, insiden ini dipastikan akan terus bergulir sebagai isu nasional. Ke depan, sorotan terhadap kebijakan imigrasi dan akuntabilitas aparat penegak hukum diperkirakan akan semakin intens, seiring meningkatnya tekanan publik untuk reformasi yang lebih menyeluruh.
Baca Juga : 3 Kebiasaan Dianggap Buruk Ini Ternyata Punya Manfaat
Cek Juga Artikel Dari Platform : petanimal

