Karakter Remaja Panti Asuhan Diasah Lewat Alam Terbuka
Sebanyak 31 remaja panti asuhan mengikuti program OBI Masa Depan Cerah yang diselenggarakan oleh Outward Bound Indonesia di alam terbuka Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat. Program ini dirancang untuk mengasah karakter, mental, kepemimpinan, serta rasa percaya diri para remaja melalui pengalaman langsung di alam, jauh dari rutinitas harian yang selama ini mereka jalani.
Kegiatan yang berlangsung di OBI Eco Campus Jatiluhur ini mendapat dukungan dari Program Bakti BCA melalui Bank Central Asia. Dukungan tersebut menjadi bagian dari komitmen dunia usaha dalam pengembangan kualitas sumber daya manusia (SDM), khususnya bagi anak-anak yang tumbuh dalam keterbatasan sosial dan keluarga.
Alam sebagai Ruang Belajar Karakter
Direktur Eksekutif Outward Bound Indonesia, Neil Laksmana Kusumowidagdo, menjelaskan bahwa program OBI Masa Depan Cerah lahir dari kegelisahan akan minimnya ruang pembelajaran karakter yang nyata bagi anak-anak panti asuhan. Banyak dari mereka tumbuh tanpa figur panutan yang konsisten, sehingga membutuhkan pengalaman langsung untuk membangun nilai-nilai dasar seperti tanggung jawab, kerja sama, dan ketangguhan mental.
“Kami melihat banyak anak panti asuhan, khususnya anak yatim, tumbuh tanpa figur role model yang bisa menjadi panutan. Karena itu, di setiap kelompok kami tempatkan mentor yang hadir bukan hanya sebagai pendamping, tetapi juga sebagai role model,” ujar Neil dalam keterangannya.
Menurutnya, pembentukan karakter tidak cukup dilakukan melalui ceramah atau kelas formal. Dibutuhkan situasi nyata yang menantang fisik dan mental, agar peserta belajar mengenal diri sendiri, mengelola emosi, serta mengambil keputusan di bawah tekanan.
Didampingi Mentor, Dibentuk dalam Kelompok Kecil
Para peserta yang berasal dari Jakarta dan Bekasi dibagi ke dalam tiga kelompok kecil. Setiap kelompok didampingi oleh tiga mentor yang berperan aktif sebagai fasilitator, pendamping, sekaligus teladan dalam bersikap. Pendekatan kelompok kecil ini memungkinkan interaksi yang lebih intens dan personal, sehingga setiap peserta mendapat perhatian dan ruang refleksi yang cukup.
Sejak hari pertama, para remaja langsung dihadapkan pada berbagai aktivitas yang menuntut kerja sama dan keberanian. Mulai dari high rope—meniti tali di ketinggian dari satu pohon ke pohon lain—hingga hiking dan eksplorasi alam di sekitar kawasan Waduk Jatiluhur.
Aktivitas tersebut dirancang untuk melatih keberanian menghadapi rasa takut, kepercayaan terhadap diri sendiri, serta kepercayaan kepada anggota tim. Setiap tantangan diakhiri dengan sesi refleksi, di mana peserta diajak menceritakan perasaan, ketakutan, dan pelajaran yang mereka dapatkan.
Belajar Mandiri dan Bertanggung Jawab
Selain tantangan fisik, program ini juga menekankan pentingnya kemandirian. Para peserta dilatih untuk mendirikan tenda sendiri, memasak makanan secara berkelompok, mengatur perlengkapan, hingga menjaga kebersihan area perkemahan. Aktivitas sederhana ini menjadi sarana pembelajaran tentang tanggung jawab dan disiplin.
Dalam penjelajahan darat, para remaja membawa ransel seberat 10–15 kilogram yang berisi tenda, alat masak, serta bahan makanan. Mereka juga dilatih membaca peta dan menentukan titik koordinat menggunakan kompas, keterampilan dasar yang menuntut ketelitian dan kerja sama.
Menurut Koordinator Program Masa Depan Cerah, Adinda, kemampuan adaptasi para peserta justru menjadi salah satu hal yang paling mengesankan.
“Adaptasi hanya terasa di hari pertama. Setelah itu mengalir lancar. Karena terbiasa hidup mandiri di panti asuhan, kemampuan mereka mengurus diri sendiri seperti memasak dan mengatur barang sudah sangat baik,” jelasnya.
Tantangan Puncak di Atas Air
Salah satu tantangan puncak dalam program ini adalah pembuatan rakit secara berkelompok. Peserta harus merakit rakit dari kayu, drum plastik bekas, dan tali, lalu menggunakannya untuk menjelajahi perairan Waduk Jatiluhur. Tantangan ini menguji kreativitas, komunikasi, serta kemampuan memecahkan masalah secara kolektif.
Kondisi cuaca yang tidak menentu, disertai angin kencang dan hujan, justru menambah kompleksitas tantangan. Meski demikian, seluruh aspek keselamatan telah dipersiapkan secara matang oleh tim Outward Bound Indonesia, sehingga kegiatan tetap berjalan aman.
Di tengah keterbatasan dan tantangan alam, para remaja belajar bahwa kegagalan bukanlah akhir, melainkan bagian dari proses belajar. Mereka juga belajar bahwa keberhasilan tidak mungkin dicapai sendirian, melainkan melalui kolaborasi dan saling percaya.
Menanam Harapan untuk Masa Depan
Program OBI Masa Depan Cerah tidak hanya bertujuan membangun keterampilan jangka pendek, tetapi juga menanamkan harapan dan kepercayaan diri untuk masa depan. Melalui pengalaman ini, para remaja diharapkan mampu melihat potensi diri mereka dan percaya bahwa latar belakang bukanlah batasan untuk berkembang.
Neil berharap program ini dapat menjadi contoh kolaborasi berkelanjutan antara organisasi pendidikan karakter dan dunia usaha.
“Kami berharap program seperti ini dapat mendorong lebih banyak korporasi untuk bersama-sama memberi ruang belajar dan pengalaman berharga bagi anak-anak Indonesia,” tuturnya.
Di tengah tantangan pembangunan SDM nasional, inisiatif seperti OBI Masa Depan Cerah menunjukkan bahwa investasi pada karakter dan mental generasi muda sama pentingnya dengan pendidikan formal. Dari alam terbuka Jatiluhur, para remaja panti asuhan pulang membawa lebih dari sekadar pengalaman—mereka membawa keberanian, harapan, dan keyakinan untuk melangkah lebih jauh ke masa depan.
Baca Juga : Kebakaran Tambora Hanguskan 15 Bangunan, Kerugian Rp1,7 Miliar
Cek Juga Artikel Dari Platform : musicpromote

