Banjir Rawa Indah Picu Penyakit dan Masalah Sampah
Banjir kembali menjadi cerita yang berulang bagi warga Rawa Indah, Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Pada Senin pagi, kawasan pemukiman ini kembali terendam air setinggi sekitar 30 sentimeter. Meski ketinggiannya terlihat tidak terlalu ekstrem, dampaknya sangat terasa dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Air yang menggenang bukan hanya menghambat aktivitas, tetapi juga membawa persoalan lain yang lebih serius: ancaman penyakit serta masalah sampah yang semakin menumpuk. Bagi warga, banjir bukan lagi sekadar genangan musiman, melainkan kenyataan yang terus mengganggu kesehatan dan kenyamanan hidup.
Kondisi ini membuat banyak warga merasa lelah, baik secara fisik maupun mental, karena banjir yang datang berulang seolah tidak pernah benar-benar selesai.
Aktivitas Warga Terganggu Sejak Pagi
Genangan air mulai masuk ke pemukiman sejak pagi hari. Jalan-jalan kecil di sekitar rumah warga berubah menjadi aliran air keruh yang menyulitkan mobilitas.
Anak-anak yang seharusnya berangkat sekolah harus ekstra hati-hati melintasi genangan. Para pekerja pun terhambat, karena akses keluar masuk lingkungan menjadi lebih sulit.
Bagi sebagian warga, banjir sudah menjadi rutinitas yang melelahkan. Mereka harus mengangkat barang-barang, menjaga perabot agar tidak rusak, dan membersihkan rumah setelah air surut.
Namun, yang paling berat bukan hanya gangguan aktivitas, melainkan dampak kesehatan yang mulai muncul.
Keluhan Penyakit Mulai Bermunculan
Salah satu warga, Husna, mengungkapkan bahwa banjir yang sering melanda wilayahnya memicu berbagai penyakit, terutama pada anak-anak.
Ia menyebut bahwa setiap kali banjir datang, warga biasanya mulai terserang demam, meriang, batuk, pilek, hingga infeksi kulit.
Menurut Husna, anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan karena daya tahan tubuh mereka lebih mudah turun saat harus beraktivitas di lingkungan lembap dan kotor.
Keluhan seperti panas dingin, badan menggigil, serta batuk pilek menjadi hal yang hampir selalu muncul ketika banjir terjadi.
Bahkan, warga sudah terbiasa dengan kedatangan petugas kesehatan atau dokter yang biasanya datang memberikan penanganan.
Situasi ini menunjukkan bahwa banjir bukan hanya persoalan air, tetapi juga ancaman kesehatan masyarakat.
Infeksi Kulit dan Penyakit Lingkungan Jadi Ancaman
Air banjir yang menggenang di pemukiman biasanya bercampur dengan lumpur, sampah, bahkan limbah rumah tangga. Kondisi ini membuat risiko infeksi kulit semakin tinggi.
Anak-anak yang bermain atau berjalan tanpa perlindungan memadai dapat mengalami gatal-gatal, ruam, bahkan luka yang sulit sembuh.
Selain itu, genangan air juga berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk yang membawa penyakit seperti demam berdarah.
Tidak hanya itu, banjir sering kali meningkatkan risiko penyakit saluran pencernaan karena air bersih bisa tercemar.
Karena itu, warga berharap banjir tidak hanya ditangani sebagai masalah infrastruktur, tetapi juga sebagai masalah kesehatan publik.
Sampah Menumpuk, Lingkungan Semakin Buruk
Selain penyakit, masalah lain yang muncul adalah tumpukan sampah.
Ketika banjir datang, sampah dari berbagai titik sering terbawa arus dan berkumpul di pemukiman warga. Plastik, sisa makanan, hingga limbah rumah tangga mengotori jalan dan selokan.
Sampah yang menumpuk ini memperburuk kondisi lingkungan. Bau tidak sedap muncul, air menjadi semakin kotor, dan risiko penyakit pun meningkat.
Warga mengeluhkan bahwa banjir seakan membawa “paket lengkap” masalah: genangan air, sampah, dan penyakit.
Jika tidak segera dibersihkan, sampah juga dapat menyumbat saluran air, sehingga banjir semakin sulit surut.
Banjir Berulang Membuat Warga Lelah
Bagi warga Rawa Indah, banjir bukan kejadian baru. Genangan air kerap datang berulang setiap musim hujan.
Kondisi ini membuat warga merasa putus asa karena seolah tidak ada solusi permanen.
Mereka berharap adanya perbaikan sistem drainase, normalisasi saluran air, serta pengelolaan sampah yang lebih baik agar banjir tidak terus terjadi.
Warga juga ingin pemerintah memberikan perhatian lebih serius, karena banjir bukan hanya merendam rumah, tetapi juga mengancam kesehatan anak-anak dan keluarga.
Upaya Penanganan Dibutuhkan Secara Menyeluruh
Penanganan banjir di kawasan seperti Rawa Indah membutuhkan pendekatan menyeluruh.
Tidak cukup hanya menyedot air atau membangun tanggul sementara, tetapi juga perlu:
- Perbaikan drainase lingkungan
- Pembersihan dan pengelolaan sampah rutin
- Edukasi kesehatan bagi warga
- Layanan medis cepat saat banjir terjadi
- Program jangka panjang untuk mencegah banjir berulang
Kolaborasi antara pemerintah daerah dan masyarakat menjadi penting agar solusi yang diambil benar-benar efektif.
Kesimpulan: Banjir Bukan Sekadar Genangan
Banjir yang kembali merendam Rawa Indah, Kelapa Gading, bukan hanya mengganggu aktivitas warga, tetapi juga memicu masalah kesehatan dan lingkungan yang serius.
Keluhan demam, batuk pilek, hingga infeksi kulit menjadi bukti bahwa banjir membawa dampak nyata, terutama bagi anak-anak.
Ditambah dengan sampah yang menumpuk, kondisi lingkungan semakin memburuk dan memperbesar risiko penyakit.
Warga berharap ada solusi permanen agar mereka tidak terus hidup dalam siklus banjir, penyakit, dan sampah setiap musim hujan.
Karena pada akhirnya, banjir bukan sekadar air yang menggenang, tetapi persoalan kualitas hidup dan keselamatan masyarakat.
Baca juga : Sekda Kupang Dorong Kepemimpinan Tangguh di IPMASTIM
Cek Juga Artikel Dari Platform : beritagram

