Rayakan Ultah ke-42, Slank Tampil Beda Rilis Lagu Republik Fufufafa
Grup band legendaris Indonesia, Slank, kembali membuat gebrakan di penghujung 2025. Bertepatan dengan perayaan ulang tahun ke-42, band yang digawangi Bimbim dan kawan-kawan ini resmi merilis single terbaru berjudul Republik Fufufafa pada Minggu, 28 Desember 2025.
Perilisan lagu ini terasa spesial karena bukan sekadar penanda usia panjang Slank di industri musik Tanah Air, tetapi juga menjadi sinyal kuat kembalinya Slank ke akar kritik sosial yang selama ini melekat erat dengan identitas mereka.
Kembali ke Jalur Kritik Sosial Tajam
Dalam beberapa tahun terakhir, sebagian penggemar menilai Slank mulai menjauh dari tema kritik sosial yang frontal. Namun melalui Republik Fufufafa, Slank seolah menegaskan bahwa ruh perlawanan dan keberanian bersuara itu belum pernah benar-benar padam.
Lagu ini menggambarkan kondisi sebuah negeri imajiner yang digambarkan penuh kekacauan, ketimpangan, dan absurditas kekuasaan. Dengan gaya khas Slank yang lugas dan apa adanya, kritik disampaikan tanpa basa-basi.
Metafora “Sakau” ala Bimbim
Drummer sekaligus penulis lagu Slank, Bimbim, menggunakan metafora yang cukup tajam dalam lirik lagu ini. Kata “sakau”, yang identik dengan kondisi kecanduan, dipakai untuk menggambarkan perilaku para elite yang dinilai terlalu haus kekuasaan, jabatan, dan materi.
Lewat lirik satir, Slank menyinggung berbagai isu sensitif yang kerap menjadi sorotan publik, mulai dari:
- Masalah stunting yang belum tertangani optimal
- Rendahnya literasi masyarakat
- Buruknya etika pejabat publik
- Kekuasaan yang dijalankan tanpa empati
Semua kritik itu dibalut dengan bahasa sederhana, namun menusuk.
Judul yang Sarat Makna Politik
Judul Republik Fufufafa sendiri langsung memancing perhatian publik. Nama tersebut merujuk pada polemik akun Kaskus “Fufufafa” yang sempat viral dan memicu kegaduhan politik nasional pada akhir 2024.
Dengan mengangkat istilah yang sudah akrab di telinga publik, Slank seolah mengajak pendengar untuk kembali mengingat absurditas politik, permainan opini, serta kegaduhan yang kerap mengalihkan fokus dari persoalan rakyat yang lebih mendasar.
Hadiah Ultah untuk Slankers
Bagi Slank, lagu ini bukan sekadar karya musik, melainkan hadiah ulang tahun untuk Slankers—sebutan bagi penggemar setia mereka. Di usia ke-42, Slank menunjukkan bahwa mereka masih relevan, kritis, dan berani bersuara di tengah dinamika sosial-politik yang terus berubah.
Musik rock khas Slank berpadu dengan lirik bernada protes menjadikan Republik Fufufafa terasa seperti refleksi perjalanan panjang band ini: dari jalanan, panggung konser, hingga ruang kritik sosial.
Penegasan Identitas Slank
Lewat single ini, Slank seakan menegaskan satu hal: usia bukan alasan untuk berhenti bersuara. Justru di usia yang matang, kritik disampaikan dengan lebih tajam, penuh pengalaman, dan kesadaran sosial yang kuat.
Republik Fufufafa bukan hanya lagu perayaan ulang tahun, tetapi juga pengingat bahwa musik masih bisa menjadi medium perlawanan, sindiran, dan suara hati rakyat.
Di tengah industri musik yang kian dipenuhi lagu-lagu ringan, Slank kembali hadir sebagai pengganggu yang perlu—mengajak pendengar berpikir, tertawa pahit, sekaligus merenung tentang negeri yang sedang dijalani bersama.
Baca Juga : Tutup 2025 dengan Gemilang, Tami Irelly Incar Prilly Latuconsina untuk Proyek Film
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : festajunina

