Tak Dibelikan Motor, Anak Tikam Ayah di Bulukumba
Peristiwa tragis mengguncang Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Seorang pemuda berinisial AW (20) tega menghabisi nyawa ayah kandungnya sendiri hanya karena persoalan sepeda motor. Kasus pembunuhan dalam keluarga ini terjadi di Dusun Kirasa, Desa Palambarae, Kecamatan Gantarang, dan menyisakan duka mendalam sekaligus keprihatinan masyarakat sekitar.
Aparat kepolisian dari Polres Bulukumba bergerak cepat setelah menerima laporan kejadian tersebut. Pelaku kini telah diamankan dan menjalani pemeriksaan intensif guna mengungkap secara utuh kronologi serta latar belakang pembunuhan yang menggemparkan warga.
Kronologi Penikaman di Dapur Rumah
Kasat Reskrim Polres Bulukumba Muhammad Ali menjelaskan, peristiwa nahas itu terjadi saat korban berada di dapur rumahnya. Tanpa diduga, pelaku mendatangi korban dalam kondisi emosi yang tidak stabil.
“Pelaku datang kemudian menusuk korban satu kali pada bagian punggung sebelah kiri,” ujar Muhammad Ali saat dikonfirmasi di Bulukumba, Minggu (11/1/2026).
Tusukan tersebut mengenai bagian vital tubuh korban. Darah mengucur deras dan korban langsung terjatuh. Anggota keluarga yang mengetahui kejadian itu berusaha memberikan pertolongan dan segera membawa korban ke RSUD Sulthan Daeng Radja.
Namun, luka tusuk yang dialami korban terlalu parah. Dalam perjalanan menuju rumah sakit, kondisinya terus menurun hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia saat penanganan medis.
“Korban sempat dilarikan ke rumah sakit, namun meninggal dunia akibat luka tusuk yang mengenai organ vital,” terang Ali.
Motif: Janji Sepeda Motor yang Tak Terpenuhi
Dari hasil pemeriksaan awal, polisi mengungkap bahwa motif pembunuhan dipicu oleh konflik pribadi antara pelaku dan korban. AW disebut merasa kecewa dan marah karena ayahnya tidak kunjung memenuhi janji untuk membelikan sepeda motor.
“Awalnya terjadi cekcok antara pelaku dan korban. Pelaku menagih janji terkait sepeda motor, namun korban kembali berjanji sehingga pelaku emosi dan melakukan penikaman,” ungkap Ali.
Pertengkaran tersebut diduga sudah berlangsung beberapa waktu sebelum kejadian. Ketika emosi memuncak, pelaku kehilangan kendali dan melakukan tindakan fatal yang berujung pada hilangnya nyawa ayahnya sendiri.
Penangkapan Pelaku dan Proses Hukum
Usai kejadian, pelaku tidak melarikan diri jauh dari lokasi. Polisi yang menerima laporan langsung mendatangi tempat kejadian perkara (TKP), melakukan olah TKP, serta mengumpulkan keterangan saksi-saksi.
Dalam waktu singkat, AW berhasil diamankan dan dibawa ke Mapolres Bulukumba untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Polisi juga menyita barang bukti berupa senjata tajam yang digunakan pelaku dalam aksi penikaman tersebut.
Penyidik kini mendalami kondisi psikologis pelaku, termasuk relasi keluarga dan riwayat konflik yang terjadi sebelumnya. Tidak menutup kemungkinan, polisi akan melibatkan ahli psikologi untuk memperkuat berkas perkara.
Geger Warga dan Duka Keluarga
Peristiwa ini sontak menggegerkan warga Dusun Kirasa. Tetangga dan kerabat korban tak menyangka tragedi berdarah itu terjadi dalam lingkup keluarga yang selama ini dikenal biasa saja.
Beberapa warga menyebut korban dikenal sebagai sosok pekerja keras dan jarang terlibat masalah dengan lingkungan sekitar. Sementara pelaku dikenal pendiam, meski belakangan disebut sering terlihat emosi ketika keinginannya tidak terpenuhi.
“Tidak menyangka sampai seperti ini. Kami semua shock karena ini terjadi antara anak dan ayah,” ujar salah seorang warga setempat.
Jenazah korban telah dimakamkan oleh pihak keluarga di pemakaman setempat, diiringi isak tangis kerabat dan warga yang datang melayat.
Refleksi Sosial: Konflik Keluarga dan Pengendalian Emosi
Kasus pembunuhan ini kembali membuka diskusi publik tentang pentingnya pengendalian emosi, komunikasi keluarga, dan kesehatan mental generasi muda. Konflik sederhana yang tidak dikelola dengan baik dapat berujung pada tragedi yang tak terbayangkan.
Pakar sosial menilai tekanan ekonomi, ekspektasi yang tidak realistis, serta minimnya ruang dialog dalam keluarga dapat menjadi faktor pemicu konflik berkepanjangan. Ketika emosi tidak tersalurkan secara sehat, kekerasan sering kali menjadi jalan pintas yang berakibat fatal.
Pihak kepolisian juga mengimbau masyarakat untuk tidak segan mencari bantuan atau mediasi jika terjadi konflik keluarga yang berpotensi memicu kekerasan.
“Kami harap masyarakat bisa belajar dari kasus ini. Sekecil apa pun masalah, jangan diselesaikan dengan kekerasan,” kata Ali.
Ancaman Hukuman
Atas perbuatannya, pelaku terancam dijerat pasal pembunuhan sebagaimana diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Ancaman hukuman yang dihadapi tidak ringan, mengingat korban adalah orang tua kandung pelaku sendiri.
Polisi menegaskan proses hukum akan berjalan secara profesional dan transparan. Berkas perkara akan segera dilengkapi sebelum dilimpahkan ke kejaksaan untuk tahap penuntutan.
Penutup
Tragedi di Bulukumba ini menjadi pengingat pahit bahwa kekerasan dalam keluarga dapat muncul dari persoalan yang tampak sepele. Hilangnya nyawa seorang ayah akibat amarah anak kandungnya sendiri meninggalkan luka mendalam, bukan hanya bagi keluarga korban, tetapi juga bagi masyarakat luas.
Penegakan hukum akan berjalan, namun pelajaran sosial dari peristiwa ini jauh lebih besar: pentingnya empati, komunikasi, dan pengendalian emosi dalam menjaga keutuhan keluarga dan keselamatan bersama.
Baca Juga : Bulog Perketat Pengawasan Harga Beras Pascaswasembada
Cek Juga Artikel Dari Platform : liburanyuk

