Kebakaran Tambora Hanguskan 15 Bangunan, Kerugian Rp1,7 Miliar
Kebakaran besar kembali melanda kawasan permukiman padat penduduk di Jakarta Barat. Kali ini, si jago merah mengamuk di Jalan Duri Bangkit, Kelurahan Jembatan Besi, Kecamatan Tambora, pada Minggu pagi, 11 Januari 2026. Insiden yang terjadi saat sebagian besar warga masih terlelap itu menghanguskan total 15 bangunan, terdiri dari 14 rumah tinggal dan satu bangunan konveksi, dengan total kerugian ditaksir mencapai Rp1,7 miliar.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah DKI Jakarta, Isnawa Adji, menyampaikan bahwa kebakaran ini menjadi salah satu peristiwa kebakaran permukiman terbesar di wilayah Jakarta Barat pada awal tahun 2026. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, dampak sosial dan ekonomi yang ditimbulkan cukup signifikan bagi warga terdampak.
Api Muncul Saat Warga Terlelap
Menurut Isnawa, api pertama kali terlihat sekitar pukul 04.24 WIB dari lantai dua salah satu rumah warga. Kondisi lingkungan yang padat, jarak bangunan yang rapat, serta banyaknya material mudah terbakar membuat api dengan cepat merembet ke bangunan lain di sekitarnya.
“Api muncul dari lantai dua rumah warga dan dengan cepat membesar karena kondisi bangunan yang berdempetan,” ujar Isnawa dalam keterangannya di Jakarta.
Saat api mulai membesar, sebagian warga yang terbangun langsung berupaya menyelamatkan diri dan barang-barang penting seadanya. Teriakan minta tolong dan suara kepanikan memecah suasana dini hari di kawasan tersebut. Beberapa warga bahkan hanya sempat keluar rumah dengan pakaian yang melekat di badan.
Proses Pemadaman Berlangsung Hampir Lima Jam
Mendapat laporan kebakaran, petugas dari Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakarta Barat segera dikerahkan ke lokasi. Armada pemadam kebakaran datang secara bertahap untuk menjinakkan api yang terus membesar.
Proses pemadaman tidak berjalan mudah. Akses jalan yang sempit di kawasan padat penduduk menjadi salah satu kendala utama bagi petugas. Selain itu, banyaknya bangunan semi permanen dan material kain dari usaha konveksi turut mempercepat penyebaran api.
“Api baru bisa dipadamkan sepenuhnya sekitar pukul 09.03 WIB setelah melalui proses pemadaman dan pendinginan,” jelas Isnawa.
Selama hampir lima jam, petugas berjibaku melawan api agar tidak merembet ke area permukiman yang lebih luas. Pendinginan dilakukan secara menyeluruh untuk memastikan tidak ada bara api tersisa yang berpotensi memicu kebakaran susulan.
Tidak Ada Korban Jiwa, Warga Kehilangan Tempat Tinggal
BPBD DKI Jakarta memastikan tidak ada korban jiwa maupun korban luka dalam peristiwa kebakaran tersebut. Keberhasilan ini tidak lepas dari cepatnya respons warga untuk menyelamatkan diri begitu api terlihat membesar.
Namun demikian, kebakaran ini menyebabkan belasan kepala keluarga kehilangan tempat tinggal. Rumah-rumah yang mereka huni ludes terbakar, menyisakan puing-puing bangunan dan barang-barang yang tidak sempat diselamatkan.
Sebagian warga terdampak kini mengungsi di lokasi pengungsian sementara yang disiapkan oleh pemerintah setempat dan dibantu relawan. Kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, selimut, dan pakaian menjadi prioritas utama dalam penanganan awal pascakebakaran.
Kerugian Ditaksir Capai Rp1,7 Miliar
Dari hasil pendataan sementara, total kerugian akibat kebakaran ini ditaksir mencapai Rp1,7 miliar. Nilai tersebut mencakup kerusakan bangunan rumah tinggal, bangunan konveksi, serta barang-barang milik warga yang hangus terbakar.
Isnawa menegaskan bahwa angka kerugian tersebut masih bersifat sementara dan dapat berubah seiring proses verifikasi lanjutan di lapangan. “Pendataan masih terus dilakukan untuk memastikan jumlah kerugian dan warga terdampak secara akurat,” katanya.
Selain kerugian materi, dampak psikologis juga dirasakan warga, terutama anak-anak dan lansia yang mengalami trauma akibat peristiwa kebakaran yang terjadi secara tiba-tiba.
Dugaan Penyebab Kebakaran Masih Diselidiki
Hingga saat ini, penyebab pasti kebakaran masih dalam proses penyelidikan oleh pihak berwenang. Dugaan awal mengarah pada korsleting listrik, mengingat api pertama kali terlihat dari lantai dua rumah warga pada waktu dini hari.
Namun, pihak Gulkarmat dan kepolisian masih melakukan investigasi lebih lanjut untuk memastikan penyebab kebakaran secara pasti. Hasil penyelidikan ini nantinya akan menjadi dasar evaluasi dan langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang.
Tambora dan Ancaman Kebakaran Permukiman Padat
Kawasan Tambora dikenal sebagai salah satu wilayah dengan kepadatan penduduk tertinggi di Jakarta. Kondisi ini membuat wilayah tersebut rentan terhadap kebakaran, terutama di permukiman dengan bangunan rapat dan instalasi listrik yang tidak selalu memenuhi standar keselamatan.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui BPBD dan Gulkarmat terus mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, khususnya di musim hujan yang kerap disertai gangguan kelistrikan.
“Warga kami imbau rutin memeriksa instalasi listrik, tidak menggunakan colokan bertumpuk, dan memastikan sumber api seperti kompor dalam kondisi aman, terutama saat malam hari,” ujar Isnawa.
Langkah Penanganan Pascakebakaran
Sebagai langkah lanjutan, BPBD DKI Jakarta akan berkoordinasi dengan instansi terkait untuk menyalurkan bantuan logistik dan memastikan kebutuhan dasar warga terdampak terpenuhi. Selain itu, pendampingan psikososial juga akan diberikan kepada warga yang mengalami trauma.
Pemerintah daerah setempat juga akan memfasilitasi proses administrasi bagi warga yang kehilangan dokumen penting akibat kebakaran, seperti KTP dan kartu keluarga.
Kebakaran di Tambora ini kembali menjadi pengingat serius akan tingginya risiko kebakaran di kawasan padat penduduk. Meski tidak menelan korban jiwa, dampak sosial dan ekonomi yang ditimbulkan menegaskan pentingnya upaya pencegahan dan kesiapsiagaan bersama agar kejadian serupa dapat diminimalkan di masa mendatang.
Baca Juga : DPR Percepat Pemulihan Pascabanjir dan Longsor Aceh
Cek Juga Artikel Dari Platform : cctvjalanan

